"Sayang, kenapa mereka?" suara Leena bergetar, matanya menatap jasad belasan orang yang berserakan. Wajahnya dipenuhi kesakitan dan ketidakpercayaan.

Lynx yang hendak berangkat ke arah yang dicurigainya menoleh pada Leena yang baru tiba, sorot matanya suram. "Bagaimana keadaan penduduk desa? Aku terpaksa meninggalkan mereka karena orang-orang ini menerobos masuk ke area kita."

"Aman. Mereka sudah mengerti bahwa mereka harus tetap maju demi keluarga masing-masing. Mereka juga sudah menduga sesuatu terjadi, jadi tidak terkejut dengan kepergianmu yang tiba-tiba," jawab Leena sambil berjongkok memeriksa tubuh yang terbujur kaku di tanah. Tangannya meraba barang-barang yang dibawa orang-orang itu, mencari sesuatu yang bisa memberi petunjuk.

"Sayang, apa mereka semua kau yang membunuh?" tanyanya lirih, meski nadanya tetap tegas.

"Mereka mati karena ikatan rantai jiwa," ucap Lynx pelan. Ia menatap dalam ke mata Leena. "Sayang, bisa kau tebak siapa orang yang kutemui… yang telah membunuh mereka?"

Leena menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan keragu-raguan. "Terlalu banyak kemungkinan. Aku… tidak bisa menebaknya. Tapi, rantai jiwa? Apakah mereka dari sekte kegelapan?"

Lynx menggelengkan kepalanya. 

"Monrest," jawab Lynx singkat, suaranya bagai palu menghantam batu.

Leena terperanjat, tubuhnya refleks berdiri tegak. Ia menatap Lynx dengan mata melebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa katamu? Monrest? Jadi suku Monrest yang melakukan ini semua?" Hela napasnya terputus-putus. Ia memang pernah mendengar kabar bahwa ada seorang dari suku Monrest yang selamat dan terlihat diam-diam ikut menyeberang ke dunia ini. Namun ia tak pernah menduga bisa mendengar nama itu lagi di tempat sejauh ini dari benua Tianzhou.

"Bukan suku Monrest. Tapi Leluhur mereka sendiri… Monrest," kata Lynx dengan tenang namun tegas. Mata Merahnya memancarkan kilau, seolah ingin membaca reaksi Leena hingga ke dalam hatinya.

Wajah Leena memucat. Ia berusaha menyangkal, meski suaranya bergetar. "Leluhur Monrest? Sayang, itu mustahil. Dia sudah mati di Planet Surya. Kalaupun yang kau lihat mirip, itu pasti suatu kebetulan atau penduduk asli dimensi ini yang memiliki wajah yang sama dengannya."

Lynx menggeleng pelan. "Dia memang Monrest. Dia mengenaliku meski aku bersembunyi di balik pakaian ini. Dia sudah pernah dibangkitkan sekali, jadi tidak mustahil jika seseorang berhasil membangkitkannya lagi." Lynx menarik napas panjang, seolah beban baru menimpa pundaknya.

Leena menggigit bibir, matanya dipenuhi kegelisahan. "Lalu… kenapa dia membunuh mereka? Apa ada dendam di antara mereka? Dimana dia sekarang?" Pertanyaan demi pertanyaan mengalir deras, tak bisa ia bendung, karena nama Monrest terlalu besar untuk disepelekan.

"Mereka semua adalah anak buahnya," jawab Lynx, suaranya dingin. "Dia membantai mereka sendiri agar kita tidak mendapatkan informasi sedikit pun tentang dirinya."

Lynx menatap jasad-jasad di sekeliling mereka, lalu mendesah panjang. "Kita harus kembali ke desa. Warga perlu tahu, dan aku harus memastikan sesuatu." Ia tidak menyebutkan tentang sosok misterius yang tadi dikejar para Master Foundation. Pria yang tampak seperti manusia biasa tidak memiliki qi spiritual, tapi anehnya menjadi incaran sekelompok kultivator kuat. Lebih janggal lagi, bagaimana mungkin manusia biasa bisa berada di kedalaman hutan berbahaya ini, melewati jurang dan sarang binatang iblis?

Pikiran itu membuat Lynx terdiam sejenak. Ia baru menyadarinya setelah pria itu menghilang.

Lynx lalu mengangkat tangannya. Baju tempurnya di sisi yang berwarna hitam perlahan berubah menjadi kuning, mengikuti elemen yang sedang dia gunakan. Ia menggunakan elemen tanah untuk menguburkan jasad-jasad kultivator itu, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

"Ternyata pakaian ini memang bereaksi dengan elemen yang kugunakan. Warna kuning… berarti aku sedang menggunakan elemen tanah," batin Lynx sambil mengamati perubahan itu.

Leena memperhatikannya, lalu tersenyum geli meski hatinya masih diliputi resah. "Sayang, bagaimana pakaian tempur barumu itu? Kau bahkan belum melepasnya meski kita hanya berdua di sini."

Lynx tersenyum tipis, menggaruk tengkuknya. "Ah… aku sampai lupa karena terlalu sibuk memikirkan mereka." Ia segera mengalirkan Qi Spiritual ke artefak di pinggangnya. Seketika partikel nano pakaian tempur itu menyusut, masuk kembali ke dalam artefak, meninggalkan Lynx dengan pakaian lamanya.

Leena menahan tawa kecil, matanya menyipit geli. "Sayang, kau tidak benar-benar lupa. Kau hanya terlalu menyukai pakaian itu, kan?" ujarnya sambil menutupi mulutnya.

Lynx hanya menghela napas pendek, tidak menyangkal tapi juga tidak membenarkan. Ia berbalik, bersiap meninggalkan lokasi itu untuk kembali ke desa. Namun sebelum ia melangkah, suara Leena kembali terdengar.

"Darimana arah kedatangan mereka?" tanyanya, pandangan masih terarah pada tubuh-tubuh yang baru saja dikuburkan Lynx.

Lynx mengangkat tangannya dan menunjuk ke satu arah di dalam hutan. "Mereka datang dari sana. Sebelum kau tiba, aku sempat berniat memeriksanya, tapi pikiranku terganggu sesuatu hal setelah memikirkan kehadiran Monrest di tempat ini."

Leena terdiam sejenak, lalu menatap arah yang ditunjuk Lynx dengan kening berkerut. "Arah itu? Bukankah di sana ada Desa Linxi? Desa tersembunyi tempat para alchemist terkenal bersembunyi."

Lynx langsung menoleh pada Leena, sorot matanya penuh rasa ingin tahu. "Desa Linxi? Dari mana kau tahu tentang itu?" Ia tak menduga Leena mengetahui lebih banyak tentang wilayah ini daripada dirinya sendiri.

"Aku baru-baru ini membantu Kael memetakan wilayah sekitar demi keselamatan Suku Surya," jelas Leena tenang. "Aku dan Lala berniat bersahabat dengan mereka, agar bisa saling berbagi ilmu. Tetapi Kael mengatakan Desa Linxi terkenal sebagai desa yang sangat menolak kedatangan orang asing. Kami masih mencari cara mendekati mereka tanpa membuat mereka menganggap kita ancaman."

Lynx mendengarkan dengan serius, lalu pandangannya kembali menajam ke arah hutan. "Kalau begitu, kita ke sana sekarang juga. Aku curiga terjadi sesuatu di tempat itu."

***

Di desa Linxi, udara dipenuhi ketegangan yang sulit dijelaskan. Para Master Foundation yang ditinggal oleh pimpinan mereka berjalan mondar-mandir, wajah mereka gelisah seakan dihantui firasat buruk.

"Kenapa pimpinan kita dan yang lainnya belum kembali. Apakah mereka masih kesulitan menangkapnya?" tanya salah satu dengan nada resah.

Yang lain mengangkat kepalanya sambil menatap ke arah hutan. "Pria itu bisa menyembunyikan auranya tanpa bisa kita sadari kehadirannya. Kurasa itu membuat pimpinan kita tidak bisa melacaknya dengan mudah."

Seorang lagi bergumam lirih, suaranya bergetar karena cemas. "Perasaanku tidak enak. Aku hanya berharap mereka segera kembali dan kita bisa pulang membawa para tawanan itu."

Namun, tawa rendah tiba-tiba terdengar di antara mereka. "Daripada kita bosan menunggu, bagaimana jika kita sedikit bersenang-senang? Lihatlah para wanita muda itu. Bukankah sangat disayangkan jika mereka hanya dijadikan pengorbanan? Kita harus membuat mereka mengenal dunia ini sebelum menyerahkan mereka."

Beberapa yang lain menoleh, mata mereka berkilat penuh nafsu. "Apa kau kira aku tidak ingin melakukannya? Aku sudah tidak sabar menunggu pimpinan agar bisa meminta salah satu dari mereka."

Seorang lagi menyeringai licik. "Aku tahu sifat pimpinan kita. Kita pilih beberapa yang paling cantik untuk pimpinan kita dan sisanya bisa kita nikmati. Kali ini aku yang duluan, kalian sudah sering mendahului, kini kalian berjaga."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu melangkah ke arah tawanan, lalu menarik paksa seorang wanita muda. Jeritan ketakutan bergema, bercampur dengan suara kemarahan penduduk yang masih tersisa.

Seorang lelaki desa maju dengan wajah berani, meski tubuhnya gemetar. "Lepaskan dia! Kau harus melewati jasadku dulu kalau ingin menyentuhnya!"

Pria Master Foundation itu tertawa keras, kemudian menendang keras hingga tubuh lelaki desa itu terlempar ke tanah, berguling dengan darah mengalir dari mulutnya. "Dasar lemah. Kalian, jaga dia. Aku tidak ingin ada yang mengganggu kesenanganku."

Dengan tawa yang menjijikkan, ia menyeret wanita itu masuk ke sebuah gubuk reyot. Di dalam, tatapannya penuh kegilaan. "Cantik, pilih. Lepaskan pakaianmu sendiri atau biarkan aku yang melepaskannya."

Wanita itu menangis ketakutan, tubuhnya gemetar. "Tidak... kumohon lepaskan aku. Tolong..." teriaknya dengan suara pecah.

"Hahaha... tidak ada yang akan berani menolongmu," ucap pria itu sambil melangkah semakin dekat, tangan kasarnya terulur ke arah kain yang menutupi tubuh wanita itu.

"Tidak... kumohon.... Jangan." wanita itu berusaha menahan, namun sebagai wanita biasa, dihadapan seorang master foundation, kekuatannya berbeda jauh. Hanya dalam beberapa detik, pria tersebut sudah menarik paksa pakaian yang digunakannya hingga tidak ada selembar kain pun pakaian menutupi tubuhnya.

